I Gusti Ketut Jelantik

Posted: January 21, 2013 in Pahlawan Indonesia
 
I Gusti Ketut Jelantik, terlahir di desa Tukadmungga pada tahun 1850. Beliau adalah generasi ke IX dalam silsilah keturunan Ki Gusti Anglurah Panji Sakti. Pada usia 25 tahun, I Gusti Ketut Jelantik ditinggal wafat oleh ayahandanya, I Gusti Ketut Banjar, yang pernah menjabat Sedahan Agung semasih Bali di bawah raja I Gusti Made Karang. Pada suatu hari, di tahun 1898, I Gusti Ketut Jlantik sedang giatnya bekerja di tegalan tiba-tiba didatangi seorang yang tergopoh-gopoh. Orang itu ternyata seorang utusan dari puri Kanginan. Setelah memberi salam hormat utusan tersebut memohon agar I Gusti Ketut Jelantik cepat-cepat pulang ke Puri Kanginan karena ada musibah. Hanya keterangan sesingkat itu yang didapat. Dengan perasaan cemas, dan berbekas tanah lumpur di kaki, beliau segera berangkat dengan lebih dahulu singgah untuk memberi tahu keluarga di Puri Tukadmungga. Ibunya, Gusti Biang Kompyang Keramas berasal dari Banjar Penataran desa Buleleng, setelah menjanda diambil sebagai isteri oleh I Gusti Bagus Jelantik, yang tidak lain adalah kakak kandung I Gusti Ketut Banjar almarhum. I Gusti Bagus Jelantik waktu itu sebagai Punggawa Penarukan (1860-1880) yang kemudian merangkap jabatan sebagai Patih Kerajaan Buleleng (1872-1887). Mereka tinggal di Puri Kanginan beserta seluruh sanak keluarga.

LANGKAH KEHIDUPAN I GUSTI KETUT JELANTIK

Melirik Desa Kalibukbuk. Sejak muda I Gusti Ketut Jelantik sering kali ke desa Kalibukbuk. Sedangkan kakak tertuanya, I Gusti Putu Geria lebih dahulu berusaha tani dan memiliki secutak tanah di desa Kalibukbuk.Ketertarikan beliau kepada desa Kalibukbuk tidak terlepas dari cerita rakyat / legenda bahwa wilayah desa di tepi pantai itu punya sejarah berlapis yang cukup menarik. Konon di Kalibukbuk pernah berdiri sebuah kerajaan kecil yang makmur dengan hasil pertanian yang melimpah dan pelabuhan perahu yang ramai.Sekarang ini, I Gusti Ketut Jelantik dengan telah memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga bersama isteri, I Gusti Ayu Made Geria dan seorang putrinya, I Gusti Ayu Jelantik yang sedang tumbuh, mendorong I Gusti Ketut Jelantik untuk memulai berusaha untuk bertani di desa Kalibukbuk. Jaraknya sekitar 3 kilometer di sebelah barat desa kelahirannya, desa Tukadmungga. Dari modal yang diberikan ibunya, beliau membeli tanah tegal di sana. Beliau mulai menanam tembakau, jagung, umbi-umbian dan kemudian pohon kelapa.I Gusti Ketut Jelantik terus menekuni usaha pertanian. Kalau nanti dapat untung, demikian kata beliau kepada isterinya, uangnya akan dipakai untuk membeli kuda. Mengapa kuda, isterinya bertanya. Untuk mengangkut hasil tani, jawabnya. Bukankah alat angkut itu penting demi kelancaran pemasaran hasil taninya? Keterangan itu langsung didukung sang istri.Rupanya langkah itu memang sangat tepat. Angkutan adalah sarana penting dalam berusaha. Disamping itu pula beliau bisa ikut dalam sekaha “mableseng”, yaitu kumpulan kusir kuda beban atau “pekatik jaran” seperti pengalu. Beliau mengangkut hasil pertanian seperti padi, 
kelapa, jagung dan hasil lainnya memakai kuda dari desa ke desa dengan menerima upah. I 
Gusti Ayu Jelantik putrinya yang masih belia dengan tekun mendengarkan perbincangan 
antara kedua orang tuanya.Membangun Pura. Disebelah utara Pura Sari beliau mendirikan pondok yaitu rumah sederhana dengan tembok 
tanah untuk tempat tinggal. Semenjak itulah (1878) beliau menetap di desa Kalibukbuk. 
Apalagi ada saudara sepupu beliau yaitu I Gusti Putu Selat yang juga dari Puri 
Tukadmungga membeli tegal dan bertani di desa itu 

Suka  duka sebagai petani.

Kali ini bukan di pedesaan tetapi di dalam kota Singaraja, mengangkut padi dari subak Tegal 
ke Banjar Lobong melewati jalan di sebelah Puri Kanginan. Bersama anggota pengalu 
dengan kudanya beliau beberapa kali bolak balik melalui jalan itu. Beliau waktu itu memakai 
pakaian pengalu, lengkap dengan udeng dan bertopi capil untuk menahan terik matahari. 
Namun rupanya ada sesesorang yang mengenali beliau. Orang itu lalu menghadap Ratu 
Punggawa yang tidak lain adalah I Gusti Nyoman Raka kakak beliau yang sedang istirahat 
di dalam gedong Puri Kanginan. Mendengar laporan tersebut Ratu Punggawa masih ragu 
apakah benar yang dilaporkan itu adiknya. Memang sudah lama adik bungsunya ini tidak 
pernah pulang ke puri Kanginan, semenjak menekuni pekerjaan tani di desa Kalibukbuk. 
Lalu beliau bergegas menunggu di pintu luar Puri untuk melihat apakah yang dimaksud itu 
benar-benar adiknya sendiri.
Sekembalinya dari Banjar Lobong, I Gusti Ketut Jelantik ditegur oleh kakaknya.Yang ditegur 
pun berhenti di samping kudanya. Setelah adu pandang sejenak sang adik menghampiri dan 
memberi hormat pada kakaknya yang punggawa. Mereka berdua lalu berpelukan disaksikan 
oleh para abdi di sekitarnya.
Diceritakan juga mengenai putri beliau, I Gusti Ayu Jelantik yang perwatakannya maupun 
perawakannya seperti anak laki-laki. Beliau ikut ayahnya berkebun, membajak, mencangkul. 
Bahkan waktu musim kemarau beliau giat memikul air di pundaknya  untuk menyiram 
tembakau di tegal, seperti laki-laki sungguhan. Ayah dan bundanya selalu memakai 
perhitungan dan mendidiknya untuk menabung. Pada suatu hari sedang panas di tempat 
orang ramai ada orang  yang menjual minuman cendol. I Gusti Ayu Jelantik yang masih 
remaja ini ingin membeli cendol, tetapi dilarang ibunya. Karena terus merengek maka beliau 
dihukum pukul (tigtig) oleh ibunya di tempat orang banyak. Maksudnya agar si anak bisa 
menahan diri agar tidak semaunya berbelanja.

 
 
Sesampai di Puri Kanginan didapati banyak orang berkerumun. I 
Gusti Nyoman Raka yang menjabat punggawa kota dan juga 
sebagai Kanca pada kantor Lid van Kerta sedang bersimbah darah. 
Beliau terkena musibah. Satu kotak mesiu di bawah meja kerja 
beliau yang merupakan alat bukti dalam perkara yang sedang beliau 
ditangani, tanpa diketahui sebabnya, tiba-tiba saja meletup.kerja 
yang merupakan alat bukti dalam perkara yang sedang beliau 
tangani, tanpa diketahui sebabnya, tiba-tiba saja meletup. Badan 
beliau dari bagian pinggang ke bawah penuh luka bakar. Tidak 
lama akhirnya beliau wafat. Maka beliau disebut Dewata Geseng.
 
I Gusti Ketut Jelantik dengan tugasnya.

Kini I Gusti Ketut Jelantik telah diangkat sebagai penguasa lokal, menjabat punggawa 
district van Buleleng sejak 1898. Beliau bertugas dibawah asisten residen (pejabat) 
Schwartz. Waktunya bertepatan dengan dimulainya politik luar negeri Belanda di Den Haag, 
dengan “ethische politiek” atau politik ber-etika di Indonesia yang penerapan lebih lunak 
setelah berlakunya “cultuurstelsel” yang mendapat kritik secara luas, baik di negeri jajahan 
maupun di parlemen Belanda. Kebijakan baru ini memberi peluang lebih besar kepada tokoh 
“pribumi” untuk mengatur pembangunan di wilayahnya. Demikian juga di Buleleng. 
Kesempatan ini digunakan oleh I Gusti Ketut Jelantik dengan membangun kehidupan yang 
lebih baik bagi masyarakat.
I Gusti Ketut Jelantik tentunya tidak bebas menjalankan kebijakan sendiri dalam tugasnya. 
Diatas beliau ada kekuasaan Asisten residen. Maka kerap kali beliau mendampingi 
perjalanan kerja (tourne) ke pelbagai wilayah kerajaan di Bali.

Setelah menguasai Buleleng dan Karangasem, sepertinya Belanda ingin menacapkan 
kukunya di wilayah Badung dan Tabanan. Ini dialami langsung oleh I Gusti Ketut Jelantik 
dalam menjalankan tugasnya sebai seorang punggawa yang diatur-atur oleh Belanda sebagai 
atasannya.

I Gusti Ketut Jelantik mengikuti perjalanan Asisten residan Schwartz ke pelbagai daerah di 
Bali. Pada tanggal 17 Juli 1899 muali perjalanan ke Tabanan dan Badung, dengan berkuda, 
dari Singaraja. Ikut dalam rombongan itu Ida Bagus Gelgel. Juga ikut serta I Gusti Ketut 
Jiwa sebagai juru bahasa. Setelah enam setengah sampailah rombongan d Pengastulan. 
Singgah di Bubunan memeriksa sebuah pesanggrahan yang sedang dibangun.

Tanggal 18 Juli, dilanjutkan ke desa Petemon, Ringdikit, Rangdu, Mayong,   Busugbiu dan 
Kekeran. Penduduk di desa Bantiran waktu itu berjumlah 200 jiwa. Asisten residen 
mencatat bahwa daerah ini juga seperti daerah lain di Buleleng sangatlah subur dan indah. 
Di Pupuan terdapat kebun kopi yang saat itu sedang panen besar. Penduduk berjumlah 200 
jiwa dengan 16 orang keturuna Cina. Selain itu Pupuan terdapat kegiatan penjualan candu 
selain di beberapa tempat di Buleleng. Sedangkan di Pujungan berpenduduk 400 jiwa
Sampailah  perjalanan rombongan di perbukitan dengan hutan yang sangat lebat yang 
berada di perbatasan Buleleng dan Tabanan. Beberapa “koelie” atau orang suruhan dikirim 
oleh Raja Tabanan menyongsong dan membantu mengangkut barang bawaan para pejabat 
pemerintah.

Ibukota Tabanan berbentuk hamparan memanjang dengan jalan lebar saling berpotongan 
(pempatan) yang kelihatannya kurang terawat, berpenduduk sekitar 1000 orang.
Di pusat kota terdapat beberapa puri, di antaranya Puri Agung sebagai istana Raja 
(Cokorda), Puri Kaleran sebagao istana (Wakil Raja) Gusti Ngurah Made Kaleran. Juga 
terdapat Puri Oka, Puri Anyar dan Puri Dangin yang menjadi tempat tinggal sanakkeluarga 
Raja.

22 Juli 1899. Pada pagi hari setelah kedatangan kami, diisi dengan kunjungan resmi ke Puri 
agung menghadap kepada Cokorda. Waktu perjamuan ditentukan oleh putra-putranya, dan 
sewaktu rombongan memasuki puri, para Pedanda dan Punggawa menyongsong 
kedatangan rombongan tamu pembesar dari Singaraja, diantar ke kediaman Raja. Melihat 
suasana penyambutan Tuan Schwartz kelihatan sangat puas. Apalagi, tinggi di atas tiang 
terlihat bendera Belanda tigawarna berkibar dengan megahnya.

Kedatangan para pembesar dari Singaraja sebagai ibu kota Bali disongsong oleh Wakil Raja 
Tababan Gusti Ngurah Made Kaleran. Sedangkan Cokorda Gusti Ngurah Agung, berumur 
sekitar 80 tahun, menuggu di dalam Puri.
Ketika kami memasuki halaman dalam, Cokorda Gusti Ngurah Agung turun menyongsong 
rombongan dengan tergopoh-gopoh, seraya menunjukkan jalan ke ruangan tamu yang 
disebut Bale Petandakan.

Kerajaan Tabanan memang sudah menandatangani kontrak dengan Belanda tahun 1844. 
Namun Belanda akhirnya memakai kekerasan perang, melalui tiga kali penyerbuan, yang 
akhirnya berhasil menaklukkan kerajaan Buleleng sehingga kekuasaan Belanda di Bali sudah 
menjadi kenyataan. Setelah itu kembali pihak Belanda menyodorkan surat kontrak pada 
tahun 1849. Kenyataan inilah yang menimbulkan kekecewaan para raja di Bali. Maka dalam 
kegiatan pemerintahan banyak dilimpahkan kepada para wakilnya bilamana kemudian 
berhadapan dengan pejabat pemerintah Belanda.

Dalam pembicaraan antara para pembesar pemerintahan, secara garis besar berkesan 
sepertinya pihak Belanda, melalui kontlir bidang politik Schwartz atas nama Residen 
Liefrinck tidak lain berbasa basi dengan berbagai upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat 
di Tabanan. Kemudian misi ini dilanjutkan ke Wilayah kerajaan Badung.

Dalam pembicaraan antara para pembesar pemerintahan, secara garis besar berkesan 
sepertinya pihak Belanda, melalui pejabat kontlir bidang politik Schwartz atas nama Residen 
Liefrinck tidak lain ikut mengurus pemerintahan berdasarka kontrak. Semuanya data 
dicatat, hasil pertanian, peternakan, jumlah penduduk, penghasilan rakyat sampai 
penghasilan raja. Juga dicatat sejarah kerajaan serta kekerabatan antara para raja di Bali. 
Juga banyak dicatat mengenai pergangan candu (opium).
Dalam kasus-kasus penting raja Tabanan selalu mencari kesepakatan dengan raja-raja 
Badung, menurut cerita orang, yang masih berhubungan darah.

Kemudian pada tanggal 27 Juli 1899 perjalanan dilanjutkan sampai di dekat pura Pesiapan 
melalui jalan yang sama dari Megati. Kemudian kami membelok kiri, jalan yang membawa 
kami pada bentangan sawah yang bagus dan agak lebar. Melalui Tukad Enu, Nusa dan 
Tukad Abe sampai di desa Taman Banjar Ambengan berpendudk 100 jiwa, Pangkung 
Karang dengan 250 jiwa dan Serongga dengan 150 jiwa. Sampailah rombongan di 
Kerambitan, salah satu desa terpenting di daerah Tabanan, berpenduduk hampir 1400 jiwa. 
Di desa inilah, menurut cerita orang, Aryo Damar berada, pemimpin perang jaman 
Majapahit membagi wilayah Bali dengan raja Brawijaya. Tabanan mendapat bagian dan 
membuat puri tersendiri. Para keluarga tersebut merasa satu garis keturunan.

Di desa Kerambitan ini terdapat perempatan jalan dengan deretan beberapa puri, terutama 
puri Agung, tempat bersemayam Anak Agung Ngurah Gde Kerambitan dan puri Anyar 
tempat tinggal keluarga yang lebih muda Anak Agung Ngurah Made, sepupu dari raja. Dari 
sini rombongan melalui persawahan ke desa Tista dengan penduduk kl.30 jiwa,  Banjar 
Lelangon dengan 60 orang, Blumbang 700 orang, Tebupoh 450 orang dan Pasut 400 jiwa. 
Kemudian perjalanan menyusur pantai yang kadang terjal yang dihempas gelombang 
Samudra Hindia. Banyak terdapat bebatuan besar, ditumbuhi rumput alang-alang. Disana 
ada sebuah Pura Segara dibangun.
Tidak ada tempat yang baik untuk kapal bisa berlabuh di pantai ini. Pelabuhan Kedungu, 
dilaporkan adalah salah satu tambatan perahu terbaik tetapi sekarang ini adalah saat buruk 
bahkan jukung hampir mustahil bisa mendekati pesisir.
Pada beberapa sudut pantai terlihat permukiman kecil dari desa Pasut, Tangguntiti, Bebali, 
Antab yang kebanyakan penduduknya  membuat garam, menangkap ikan dan penyu dan 
mata pencaharian hasil laut lainnya. Di sebelah Barat Tukad Butek dibuat persawahn baru di 
dekat pantai. Tetapi dari Tukad Petireman sampai ke sungai Pulukan tertutup hutan.
Bagi Tuan Kontlir perjalanan ini bisa menyenangkan hatinya karena menikmati alam yang 
berbeda dengan alam di negeri Belanda. Secara singkat setelah melewati wilayah Mengwi, 
sampailah ke daerah Badung. Desa Kuta yang pernah merupakan pelabuhan ramai, kini 
makin sepi karena di Bali Utara, pelabuhan Buleleng makin dibenahi dan menjadi pelabuhanyang makin sibuk karena lebih aman

 Sumber : 

I Gusti Ketut Jelanthik

 
 
 
 
 
 
 
 
 
I Gusti Ketut Jelantik, terlahir di desa Tukadmungga pada tahun 1850. Beliau adalah generasi ke IX dalam silsilah keturunan Ki Gusti Anglurah Panji Sakti. Pada usia 25 tahun, I Gusti Ketut Jelantik ditinggal wafat oleh ayahandanya, I Gusti Ketut Banjar, yang pernah menjabat Sedahan Agung semasih Bali di bawah raja I Gusti Made Karang. Pada suatu hari, di tahun 1898, I Gusti Ketut Jlantik sedang giatnya bekerja di tegalan tiba-tiba didatangi seorang yang tergopoh-gopoh. Orang itu ternyata seorang utusan dari puri Kanginan. Setelah memberi salam hormat utusan tersebut memohon agar I Gusti Ketut Jelantik cepat-cepat pulang ke Puri Kanginan karena ada musibah. Hanya keterangan sesingkat itu yang didapat. Dengan perasaan cemas, dan berbekas tanah lumpur di kaki, beliau segera berangkat dengan lebih dahulu singgah untuk memberi tahu keluarga di Puri Tukadmungga. Ibunya, Gusti Biang Kompyang Keramas berasal dari Banjar Penataran desa Buleleng, setelah menjanda diambil sebagai isteri oleh I Gusti Bagus Jelantik, yang tidak lain adalah kakak kandung I Gusti Ketut Banjar almarhum. I Gusti Bagus Jelantik waktu itu sebagai Punggawa Penarukan (1860-1880) yang kemudian merangkap jabatan sebagai Patih Kerajaan Buleleng (1872-1887). Mereka tinggal di Puri Kanginan beserta seluruh sanak keluarga.

LANGKAH KEHIDUPAN I GUSTI KETUT JELANTIK

Melirik Desa Kalibukbuk. Sejak muda I Gusti Ketut Jelantik sering kali ke desa Kalibukbuk. Sedangkan kakak tertuanya, I Gusti Putu Geria lebih dahulu berusaha tani dan memiliki secutak tanah di desa Kalibukbuk.Ketertarikan beliau kepada desa Kalibukbuk tidak terlepas dari cerita rakyat / legenda bahwa wilayah desa di tepi pantai itu punya sejarah berlapis yang cukup menarik. Konon di Kalibukbuk pernah berdiri sebuah kerajaan kecil yang makmur dengan hasil pertanian yang melimpah dan pelabuhan perahu yang ramai.Sekarang ini, I Gusti Ketut Jelantik dengan telah memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga bersama isteri, I Gusti Ayu Made Geria dan seorang putrinya, I Gusti Ayu Jelantik yang sedang tumbuh, mendorong I Gusti Ketut Jelantik untuk memulai berusaha untuk bertani di desa Kalibukbuk. Jaraknya sekitar 3 kilometer di sebelah barat desa kelahirannya, desa Tukadmungga. Dari modal yang diberikan ibunya, beliau membeli tanah tegal di sana. Beliau mulai menanam tembakau, jagung, umbi-umbian dan kemudian pohon kelapa.I Gusti Ketut Jelantik terus menekuni usaha pertanian. Kalau nanti dapat untung, demikian kata beliau kepada isterinya, uangnya akan dipakai untuk membeli kuda. Mengapa kuda, isterinya bertanya. Untuk mengangkut hasil tani, jawabnya. Bukankah alat angkut itu penting demi kelancaran pemasaran hasil taninya? Keterangan itu langsung didukung sang istri.Rupanya langkah itu memang sangat tepat. Angkutan adalah sarana penting dalam berusaha. Disamping itu pula beliau bisa ikut dalam sekaha “mableseng”, yaitu kumpulan kusir kuda beban atau “pekatik jaran” seperti pengalu. Beliau mengangkut hasil pertanian seperti padi, 
kelapa, jagung dan hasil lainnya memakai kuda dari desa ke desa dengan menerima upah. I 
Gusti Ayu Jelantik putrinya yang masih belia dengan tekun mendengarkan perbincangan 
antara kedua orang tuanya.Membangun Pura. Disebelah utara Pura Sari beliau mendirikan pondok yaitu rumah sederhana dengan tembok 
tanah untuk tempat tinggal. Semenjak itulah (1878) beliau menetap di desa Kalibukbuk. 
Apalagi ada saudara sepupu beliau yaitu I Gusti Putu Selat yang juga dari Puri 
Tukadmungga membeli tegal dan bertani di desa itu 

Suka  duka sebagai petani.

Kali ini bukan di pedesaan tetapi di dalam kota Singaraja, mengangkut padi dari subak Tegal 
ke Banjar Lobong melewati jalan di sebelah Puri Kanginan. Bersama anggota pengalu 
dengan kudanya beliau beberapa kali bolak balik melalui jalan itu. Beliau waktu itu memakai 
pakaian pengalu, lengkap dengan udeng dan bertopi capil untuk menahan terik matahari. 
Namun rupanya ada sesesorang yang mengenali beliau. Orang itu lalu menghadap Ratu 
Punggawa yang tidak lain adalah I Gusti Nyoman Raka kakak beliau yang sedang istirahat 
di dalam gedong Puri Kanginan. Mendengar laporan tersebut Ratu Punggawa masih ragu 
apakah benar yang dilaporkan itu adiknya. Memang sudah lama adik bungsunya ini tidak 
pernah pulang ke puri Kanginan, semenjak menekuni pekerjaan tani di desa Kalibukbuk. 
Lalu beliau bergegas menunggu di pintu luar Puri untuk melihat apakah yang dimaksud itu 
benar-benar adiknya sendiri.
Sekembalinya dari Banjar Lobong, I Gusti Ketut Jelantik ditegur oleh kakaknya.Yang ditegur 
pun berhenti di samping kudanya. Setelah adu pandang sejenak sang adik menghampiri dan 
memberi hormat pada kakaknya yang punggawa. Mereka berdua lalu berpelukan disaksikan 
oleh para abdi di sekitarnya.
Diceritakan juga mengenai putri beliau, I Gusti Ayu Jelantik yang perwatakannya maupun 
perawakannya seperti anak laki-laki. Beliau ikut ayahnya berkebun, membajak, mencangkul. 
Bahkan waktu musim kemarau beliau giat memikul air di pundaknya  untuk menyiram 
tembakau di tegal, seperti laki-laki sungguhan. Ayah dan bundanya selalu memakai 
perhitungan dan mendidiknya untuk menabung. Pada suatu hari sedang panas di tempat 
orang ramai ada orang  yang menjual minuman cendol. I Gusti Ayu Jelantik yang masih 
remaja ini ingin membeli cendol, tetapi dilarang ibunya. Karena terus merengek maka beliau 
dihukum pukul (tigtig) oleh ibunya di tempat orang banyak. Maksudnya agar si anak bisa 
menahan diri agar tidak semaunya berbelanja.

 
 
Sesampai di Puri Kanginan didapati banyak orang berkerumun. I 
Gusti Nyoman Raka yang menjabat punggawa kota dan juga 
sebagai Kanca pada kantor Lid van Kerta sedang bersimbah darah. 
Beliau terkena musibah. Satu kotak mesiu di bawah meja kerja 
beliau yang merupakan alat bukti dalam perkara yang sedang beliau 
ditangani, tanpa diketahui sebabnya, tiba-tiba saja meletup.kerja 
yang merupakan alat bukti dalam perkara yang sedang beliau 
tangani, tanpa diketahui sebabnya, tiba-tiba saja meletup. Badan 
beliau dari bagian pinggang ke bawah penuh luka bakar. Tidak 
lama akhirnya beliau wafat. Maka beliau disebut Dewata Geseng.
 
I Gusti Ketut Jelantik dengan tugasnya.

Kini I Gusti Ketut Jelantik telah diangkat sebagai penguasa lokal, menjabat punggawa 
district van Buleleng sejak 1898. Beliau bertugas dibawah asisten residen (pejabat) 
Schwartz. Waktunya bertepatan dengan dimulainya politik luar negeri Belanda di Den Haag, 
dengan “ethische politiek” atau politik ber-etika di Indonesia yang penerapan lebih lunak 
setelah berlakunya “cultuurstelsel” yang mendapat kritik secara luas, baik di negeri jajahan 
maupun di parlemen Belanda. Kebijakan baru ini memberi peluang lebih besar kepada tokoh 
“pribumi” untuk mengatur pembangunan di wilayahnya. Demikian juga di Buleleng. 
Kesempatan ini digunakan oleh I Gusti Ketut Jelantik dengan membangun kehidupan yang 
lebih baik bagi masyarakat.
I Gusti Ketut Jelantik tentunya tidak bebas menjalankan kebijakan sendiri dalam tugasnya. 
Diatas beliau ada kekuasaan Asisten residen. Maka kerap kali beliau mendampingi 
perjalanan kerja (tourne) ke pelbagai wilayah kerajaan di Bali.

Setelah menguasai Buleleng dan Karangasem, sepertinya Belanda ingin menacapkan 
kukunya di wilayah Badung dan Tabanan. Ini dialami langsung oleh I Gusti Ketut Jelantik 
dalam menjalankan tugasnya sebai seorang punggawa yang diatur-atur oleh Belanda sebagai 
atasannya.

I Gusti Ketut Jelantik mengikuti perjalanan Asisten residan Schwartz ke pelbagai daerah di 
Bali. Pada tanggal 17 Juli 1899 muali perjalanan ke Tabanan dan Badung, dengan berkuda, 
dari Singaraja. Ikut dalam rombongan itu Ida Bagus Gelgel. Juga ikut serta I Gusti Ketut 
Jiwa sebagai juru bahasa. Setelah enam setengah sampailah rombongan d Pengastulan. 
Singgah di Bubunan memeriksa sebuah pesanggrahan yang sedang dibangun.

Tanggal 18 Juli, dilanjutkan ke desa Petemon, Ringdikit, Rangdu, Mayong,   Busugbiu dan 
Kekeran. Penduduk di desa Bantiran waktu itu berjumlah 200 jiwa. Asisten residen 
mencatat bahwa daerah ini juga seperti daerah lain di Buleleng sangatlah subur dan indah. 
Di Pupuan terdapat kebun kopi yang saat itu sedang panen besar. Penduduk berjumlah 200 
jiwa dengan 16 orang keturuna Cina. Selain itu Pupuan terdapat kegiatan penjualan candu 
selain di beberapa tempat di Buleleng. Sedangkan di Pujungan berpenduduk 400 jiwa
Sampailah  perjalanan rombongan di perbukitan dengan hutan yang sangat lebat yang 
berada di perbatasan Buleleng dan Tabanan. Beberapa “koelie” atau orang suruhan dikirim 
oleh Raja Tabanan menyongsong dan membantu mengangkut barang bawaan para pejabat 
pemerintah.

Ibukota Tabanan berbentuk hamparan memanjang dengan jalan lebar saling berpotongan 
(pempatan) yang kelihatannya kurang terawat, berpenduduk sekitar 1000 orang.
Di pusat kota terdapat beberapa puri, di antaranya Puri Agung sebagai istana Raja 
(Cokorda), Puri Kaleran sebagao istana (Wakil Raja) Gusti Ngurah Made Kaleran. Juga 
terdapat Puri Oka, Puri Anyar dan Puri Dangin yang menjadi tempat tinggal sanakkeluarga 
Raja.

22 Juli 1899. Pada pagi hari setelah kedatangan kami, diisi dengan kunjungan resmi ke Puri 
agung menghadap kepada Cokorda. Waktu perjamuan ditentukan oleh putra-putranya, dan 
sewaktu rombongan memasuki puri, para Pedanda dan Punggawa menyongsong 
kedatangan rombongan tamu pembesar dari Singaraja, diantar ke kediaman Raja. Melihat 
suasana penyambutan Tuan Schwartz kelihatan sangat puas. Apalagi, tinggi di atas tiang 
terlihat bendera Belanda tigawarna berkibar dengan megahnya.

Kedatangan para pembesar dari Singaraja sebagai ibu kota Bali disongsong oleh Wakil Raja 
Tababan Gusti Ngurah Made Kaleran. Sedangkan Cokorda Gusti Ngurah Agung, berumur 
sekitar 80 tahun, menuggu di dalam Puri.
Ketika kami memasuki halaman dalam, Cokorda Gusti Ngurah Agung turun menyongsong 
rombongan dengan tergopoh-gopoh, seraya menunjukkan jalan ke ruangan tamu yang 
disebut Bale Petandakan.

Kerajaan Tabanan memang sudah menandatangani kontrak dengan Belanda tahun 1844. 
Namun Belanda akhirnya memakai kekerasan perang, melalui tiga kali penyerbuan, yang 
akhirnya berhasil menaklukkan kerajaan Buleleng sehingga kekuasaan Belanda di Bali sudah 
menjadi kenyataan. Setelah itu kembali pihak Belanda menyodorkan surat kontrak pada 
tahun 1849. Kenyataan inilah yang menimbulkan kekecewaan para raja di Bali. Maka dalam 
kegiatan pemerintahan banyak dilimpahkan kepada para wakilnya bilamana kemudian 
berhadapan dengan pejabat pemerintah Belanda.

Dalam pembicaraan antara para pembesar pemerintahan, secara garis besar berkesan 
sepertinya pihak Belanda, melalui kontlir bidang politik Schwartz atas nama Residen 
Liefrinck tidak lain berbasa basi dengan berbagai upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat 
di Tabanan. Kemudian misi ini dilanjutkan ke Wilayah kerajaan Badung.

Dalam pembicaraan antara para pembesar pemerintahan, secara garis besar berkesan 
sepertinya pihak Belanda, melalui pejabat kontlir bidang politik Schwartz atas nama Residen 
Liefrinck tidak lain ikut mengurus pemerintahan berdasarka kontrak. Semuanya data 
dicatat, hasil pertanian, peternakan, jumlah penduduk, penghasilan rakyat sampai 
penghasilan raja. Juga dicatat sejarah kerajaan serta kekerabatan antara para raja di Bali. 
Juga banyak dicatat mengenai pergangan candu (opium).
Dalam kasus-kasus penting raja Tabanan selalu mencari kesepakatan dengan raja-raja 
Badung, menurut cerita orang, yang masih berhubungan darah.

Kemudian pada tanggal 27 Juli 1899 perjalanan dilanjutkan sampai di dekat pura Pesiapan 
melalui jalan yang sama dari Megati. Kemudian kami membelok kiri, jalan yang membawa 
kami pada bentangan sawah yang bagus dan agak lebar. Melalui Tukad Enu, Nusa dan 
Tukad Abe sampai di desa Taman Banjar Ambengan berpendudk 100 jiwa, Pangkung 
Karang dengan 250 jiwa dan Serongga dengan 150 jiwa. Sampailah rombongan di 
Kerambitan, salah satu desa terpenting di daerah Tabanan, berpenduduk hampir 1400 jiwa. 
Di desa inilah, menurut cerita orang, Aryo Damar berada, pemimpin perang jaman 
Majapahit membagi wilayah Bali dengan raja Brawijaya. Tabanan mendapat bagian dan 
membuat puri tersendiri. Para keluarga tersebut merasa satu garis keturunan.

Di desa Kerambitan ini terdapat perempatan jalan dengan deretan beberapa puri, terutama 
puri Agung, tempat bersemayam Anak Agung Ngurah Gde Kerambitan dan puri Anyar 
tempat tinggal keluarga yang lebih muda Anak Agung Ngurah Made, sepupu dari raja. Dari 
sini rombongan melalui persawahan ke desa Tista dengan penduduk kl.30 jiwa,  Banjar 
Lelangon dengan 60 orang, Blumbang 700 orang, Tebupoh 450 orang dan Pasut 400 jiwa. 
Kemudian perjalanan menyusur pantai yang kadang terjal yang dihempas gelombang 
Samudra Hindia. Banyak terdapat bebatuan besar, ditumbuhi rumput alang-alang. Disana 
ada sebuah Pura Segara dibangun.
Tidak ada tempat yang baik untuk kapal bisa berlabuh di pantai ini. Pelabuhan Kedungu, 
dilaporkan adalah salah satu tambatan perahu terbaik tetapi sekarang ini adalah saat buruk 
bahkan jukung hampir mustahil bisa mendekati pesisir.
Pada beberapa sudut pantai terlihat permukiman kecil dari desa Pasut, Tangguntiti, Bebali, 
Antab yang kebanyakan penduduknya  membuat garam, menangkap ikan dan penyu dan 
mata pencaharian hasil laut lainnya. Di sebelah Barat Tukad Butek dibuat persawahn baru di 
dekat pantai. Tetapi dari Tukad Petireman sampai ke sungai Pulukan tertutup hutan.
Bagi Tuan Kontlir perjalanan ini bisa menyenangkan hatinya karena menikmati alam yang 
berbeda dengan alam di negeri Belanda. Secara singkat setelah melewati wilayah Mengwi, 
sampailah ke daerah Badung. Desa Kuta yang pernah merupakan pelabuhan ramai, kini 
makin sepi karena di Bali Utara, pelabuhan Buleleng makin dibenahi dan menjadi pelabuhanyang makin sibuk karena lebih aman

 Sumber :

I Gusti Ketut Jelanthik

 
 
 
 
 
 
 
 
 
I Gusti Ketut Jelantik, terlahir di desa Tukadmungga pada tahun 1850. Beliau adalah generasi ke IX dalam silsilah keturunan Ki Gusti Anglurah Panji Sakti. Pada usia 25 tahun, I Gusti Ketut Jelantik ditinggal wafat oleh ayahandanya, I Gusti Ketut Banjar, yang pernah menjabat Sedahan Agung semasih Bali di bawah raja I Gusti Made Karang. Pada suatu hari, di tahun 1898, I Gusti Ketut Jlantik sedang giatnya bekerja di tegalan tiba-tiba didatangi seorang yang tergopoh-gopoh. Orang itu ternyata seorang utusan dari puri Kanginan. Setelah memberi salam hormat utusan tersebut memohon agar I Gusti Ketut Jelantik cepat-cepat pulang ke Puri Kanginan karena ada musibah. Hanya keterangan sesingkat itu yang didapat. Dengan perasaan cemas, dan berbekas tanah lumpur di kaki, beliau segera berangkat dengan lebih dahulu singgah untuk memberi tahu keluarga di Puri Tukadmungga. Ibunya, Gusti Biang Kompyang Keramas berasal dari Banjar Penataran desa Buleleng, setelah menjanda diambil sebagai isteri oleh I Gusti Bagus Jelantik, yang tidak lain adalah kakak kandung I Gusti Ketut Banjar almarhum. I Gusti Bagus Jelantik waktu itu sebagai Punggawa Penarukan (1860-1880) yang kemudian merangkap jabatan sebagai Patih Kerajaan Buleleng (1872-1887). Mereka tinggal di Puri Kanginan beserta seluruh sanak keluarga.

LANGKAH KEHIDUPAN I GUSTI KETUT JELANTIK

Melirik Desa Kalibukbuk. Sejak muda I Gusti Ketut Jelantik sering kali ke desa Kalibukbuk. Sedangkan kakak tertuanya, I Gusti Putu Geria lebih dahulu berusaha tani dan memiliki secutak tanah di desa Kalibukbuk.Ketertarikan beliau kepada desa Kalibukbuk tidak terlepas dari cerita rakyat / legenda bahwa wilayah desa di tepi pantai itu punya sejarah berlapis yang cukup menarik. Konon di Kalibukbuk pernah berdiri sebuah kerajaan kecil yang makmur dengan hasil pertanian yang melimpah dan pelabuhan perahu yang ramai.Sekarang ini, I Gusti Ketut Jelantik dengan telah memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga bersama isteri, I Gusti Ayu Made Geria dan seorang putrinya, I Gusti Ayu Jelantik yang sedang tumbuh, mendorong I Gusti Ketut Jelantik untuk memulai berusaha untuk bertani di desa Kalibukbuk. Jaraknya sekitar 3 kilometer di sebelah barat desa kelahirannya, desa Tukadmungga. Dari modal yang diberikan ibunya, beliau membeli tanah tegal di sana. Beliau mulai menanam tembakau, jagung, umbi-umbian dan kemudian pohon kelapa.I Gusti Ketut Jelantik terus menekuni usaha pertanian. Kalau nanti dapat untung, demikian kata beliau kepada isterinya, uangnya akan dipakai untuk membeli kuda. Mengapa kuda, isterinya bertanya. Untuk mengangkut hasil tani, jawabnya. Bukankah alat angkut itu penting demi kelancaran pemasaran hasil taninya? Keterangan itu langsung didukung sang istri.Rupanya langkah itu memang sangat tepat. Angkutan adalah sarana penting dalam berusaha. Disamping itu pula beliau bisa ikut dalam sekaha “mableseng”, yaitu kumpulan kusir kuda beban atau “pekatik jaran” seperti pengalu. Beliau mengangkut hasil pertanian seperti padi, 
kelapa, jagung dan hasil lainnya memakai kuda dari desa ke desa dengan menerima upah. I 
Gusti Ayu Jelantik putrinya yang masih belia dengan tekun mendengarkan perbincangan 
antara kedua orang tuanya.Membangun Pura. Disebelah utara Pura Sari beliau mendirikan pondok yaitu rumah sederhana dengan tembok 
tanah untuk tempat tinggal. Semenjak itulah (1878) beliau menetap di desa Kalibukbuk. 
Apalagi ada saudara sepupu beliau yaitu I Gusti Putu Selat yang juga dari Puri 
Tukadmungga membeli tegal dan bertani di desa itu 

Suka  duka sebagai petani.

Kali ini bukan di pedesaan tetapi di dalam kota Singaraja, mengangkut padi dari subak Tegal 
ke Banjar Lobong melewati jalan di sebelah Puri Kanginan. Bersama anggota pengalu 
dengan kudanya beliau beberapa kali bolak balik melalui jalan itu. Beliau waktu itu memakai 
pakaian pengalu, lengkap dengan udeng dan bertopi capil untuk menahan terik matahari. 
Namun rupanya ada sesesorang yang mengenali beliau. Orang itu lalu menghadap Ratu 
Punggawa yang tidak lain adalah I Gusti Nyoman Raka kakak beliau yang sedang istirahat 
di dalam gedong Puri Kanginan. Mendengar laporan tersebut Ratu Punggawa masih ragu 
apakah benar yang dilaporkan itu adiknya. Memang sudah lama adik bungsunya ini tidak 
pernah pulang ke puri Kanginan, semenjak menekuni pekerjaan tani di desa Kalibukbuk. 
Lalu beliau bergegas menunggu di pintu luar Puri untuk melihat apakah yang dimaksud itu 
benar-benar adiknya sendiri.
Sekembalinya dari Banjar Lobong, I Gusti Ketut Jelantik ditegur oleh kakaknya.Yang ditegur 
pun berhenti di samping kudanya. Setelah adu pandang sejenak sang adik menghampiri dan 
memberi hormat pada kakaknya yang punggawa. Mereka berdua lalu berpelukan disaksikan 
oleh para abdi di sekitarnya.
Diceritakan juga mengenai putri beliau, I Gusti Ayu Jelantik yang perwatakannya maupun 
perawakannya seperti anak laki-laki. Beliau ikut ayahnya berkebun, membajak, mencangkul. 
Bahkan waktu musim kemarau beliau giat memikul air di pundaknya  untuk menyiram 
tembakau di tegal, seperti laki-laki sungguhan. Ayah dan bundanya selalu memakai 
perhitungan dan mendidiknya untuk menabung. Pada suatu hari sedang panas di tempat 
orang ramai ada orang  yang menjual minuman cendol. I Gusti Ayu Jelantik yang masih 
remaja ini ingin membeli cendol, tetapi dilarang ibunya. Karena terus merengek maka beliau 
dihukum pukul (tigtig) oleh ibunya di tempat orang banyak. Maksudnya agar si anak bisa 
menahan diri agar tidak semaunya berbelanja.

 
 
Sesampai di Puri Kanginan didapati banyak orang berkerumun. I 
Gusti Nyoman Raka yang menjabat punggawa kota dan juga 
sebagai Kanca pada kantor Lid van Kerta sedang bersimbah darah. 
Beliau terkena musibah. Satu kotak mesiu di bawah meja kerja 
beliau yang merupakan alat bukti dalam perkara yang sedang beliau 
ditangani, tanpa diketahui sebabnya, tiba-tiba saja meletup.kerja 
yang merupakan alat bukti dalam perkara yang sedang beliau 
tangani, tanpa diketahui sebabnya, tiba-tiba saja meletup. Badan 
beliau dari bagian pinggang ke bawah penuh luka bakar. Tidak 
lama akhirnya beliau wafat. Maka beliau disebut Dewata Geseng.
 
I Gusti Ketut Jelantik dengan tugasnya.

Kini I Gusti Ketut Jelantik telah diangkat sebagai penguasa lokal, menjabat punggawa 
district van Buleleng sejak 1898. Beliau bertugas dibawah asisten residen (pejabat) 
Schwartz. Waktunya bertepatan dengan dimulainya politik luar negeri Belanda di Den Haag, 
dengan “ethische politiek” atau politik ber-etika di Indonesia yang penerapan lebih lunak 
setelah berlakunya “cultuurstelsel” yang mendapat kritik secara luas, baik di negeri jajahan 
maupun di parlemen Belanda. Kebijakan baru ini memberi peluang lebih besar kepada tokoh 
“pribumi” untuk mengatur pembangunan di wilayahnya. Demikian juga di Buleleng. 
Kesempatan ini digunakan oleh I Gusti Ketut Jelantik dengan membangun kehidupan yang 
lebih baik bagi masyarakat.
I Gusti Ketut Jelantik tentunya tidak bebas menjalankan kebijakan sendiri dalam tugasnya. 
Diatas beliau ada kekuasaan Asisten residen. Maka kerap kali beliau mendampingi 
perjalanan kerja (tourne) ke pelbagai wilayah kerajaan di Bali.

Setelah menguasai Buleleng dan Karangasem, sepertinya Belanda ingin menacapkan 
kukunya di wilayah Badung dan Tabanan. Ini dialami langsung oleh I Gusti Ketut Jelantik 
dalam menjalankan tugasnya sebai seorang punggawa yang diatur-atur oleh Belanda sebagai 
atasannya.

I Gusti Ketut Jelantik mengikuti perjalanan Asisten residan Schwartz ke pelbagai daerah di 
Bali. Pada tanggal 17 Juli 1899 muali perjalanan ke Tabanan dan Badung, dengan berkuda, 
dari Singaraja. Ikut dalam rombongan itu Ida Bagus Gelgel. Juga ikut serta I Gusti Ketut 
Jiwa sebagai juru bahasa. Setelah enam setengah sampailah rombongan d Pengastulan. 
Singgah di Bubunan memeriksa sebuah pesanggrahan yang sedang dibangun.

Tanggal 18 Juli, dilanjutkan ke desa Petemon, Ringdikit, Rangdu, Mayong,   Busugbiu dan 
Kekeran. Penduduk di desa Bantiran waktu itu berjumlah 200 jiwa. Asisten residen 
mencatat bahwa daerah ini juga seperti daerah lain di Buleleng sangatlah subur dan indah. 
Di Pupuan terdapat kebun kopi yang saat itu sedang panen besar. Penduduk berjumlah 200 
jiwa dengan 16 orang keturuna Cina. Selain itu Pupuan terdapat kegiatan penjualan candu 
selain di beberapa tempat di Buleleng. Sedangkan di Pujungan berpenduduk 400 jiwa
Sampailah  perjalanan rombongan di perbukitan dengan hutan yang sangat lebat yang 
berada di perbatasan Buleleng dan Tabanan. Beberapa “koelie” atau orang suruhan dikirim 
oleh Raja Tabanan menyongsong dan membantu mengangkut barang bawaan para pejabat 
pemerintah.

Ibukota Tabanan berbentuk hamparan memanjang dengan jalan lebar saling berpotongan 
(pempatan) yang kelihatannya kurang terawat, berpenduduk sekitar 1000 orang.
Di pusat kota terdapat beberapa puri, di antaranya Puri Agung sebagai istana Raja 
(Cokorda), Puri Kaleran sebagao istana (Wakil Raja) Gusti Ngurah Made Kaleran. Juga 
terdapat Puri Oka, Puri Anyar dan Puri Dangin yang menjadi tempat tinggal sanakkeluarga 
Raja.

22 Juli 1899. Pada pagi hari setelah kedatangan kami, diisi dengan kunjungan resmi ke Puri 
agung menghadap kepada Cokorda. Waktu perjamuan ditentukan oleh putra-putranya, dan 
sewaktu rombongan memasuki puri, para Pedanda dan Punggawa menyongsong 
kedatangan rombongan tamu pembesar dari Singaraja, diantar ke kediaman Raja. Melihat 
suasana penyambutan Tuan Schwartz kelihatan sangat puas. Apalagi, tinggi di atas tiang 
terlihat bendera Belanda tigawarna berkibar dengan megahnya.

Kedatangan para pembesar dari Singaraja sebagai ibu kota Bali disongsong oleh Wakil Raja 
Tababan Gusti Ngurah Made Kaleran. Sedangkan Cokorda Gusti Ngurah Agung, berumur 
sekitar 80 tahun, menuggu di dalam Puri.
Ketika kami memasuki halaman dalam, Cokorda Gusti Ngurah Agung turun menyongsong 
rombongan dengan tergopoh-gopoh, seraya menunjukkan jalan ke ruangan tamu yang 
disebut Bale Petandakan.

Kerajaan Tabanan memang sudah menandatangani kontrak dengan Belanda tahun 1844. 
Namun Belanda akhirnya memakai kekerasan perang, melalui tiga kali penyerbuan, yang 
akhirnya berhasil menaklukkan kerajaan Buleleng sehingga kekuasaan Belanda di Bali sudah 
menjadi kenyataan. Setelah itu kembali pihak Belanda menyodorkan surat kontrak pada 
tahun 1849. Kenyataan inilah yang menimbulkan kekecewaan para raja di Bali. Maka dalam 
kegiatan pemerintahan banyak dilimpahkan kepada para wakilnya bilamana kemudian 
berhadapan dengan pejabat pemerintah Belanda.

Dalam pembicaraan antara para pembesar pemerintahan, secara garis besar berkesan 
sepertinya pihak Belanda, melalui kontlir bidang politik Schwartz atas nama Residen 
Liefrinck tidak lain berbasa basi dengan berbagai upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat 
di Tabanan. Kemudian misi ini dilanjutkan ke Wilayah kerajaan Badung.

Dalam pembicaraan antara para pembesar pemerintahan, secara garis besar berkesan 
sepertinya pihak Belanda, melalui pejabat kontlir bidang politik Schwartz atas nama Residen 
Liefrinck tidak lain ikut mengurus pemerintahan berdasarka kontrak. Semuanya data 
dicatat, hasil pertanian, peternakan, jumlah penduduk, penghasilan rakyat sampai 
penghasilan raja. Juga dicatat sejarah kerajaan serta kekerabatan antara para raja di Bali. 
Juga banyak dicatat mengenai pergangan candu (opium).
Dalam kasus-kasus penting raja Tabanan selalu mencari kesepakatan dengan raja-raja 
Badung, menurut cerita orang, yang masih berhubungan darah.

Kemudian pada tanggal 27 Juli 1899 perjalanan dilanjutkan sampai di dekat pura Pesiapan 
melalui jalan yang sama dari Megati. Kemudian kami membelok kiri, jalan yang membawa 
kami pada bentangan sawah yang bagus dan agak lebar. Melalui Tukad Enu, Nusa dan 
Tukad Abe sampai di desa Taman Banjar Ambengan berpendudk 100 jiwa, Pangkung 
Karang dengan 250 jiwa dan Serongga dengan 150 jiwa. Sampailah rombongan di 
Kerambitan, salah satu desa terpenting di daerah Tabanan, berpenduduk hampir 1400 jiwa. 
Di desa inilah, menurut cerita orang, Aryo Damar berada, pemimpin perang jaman 
Majapahit membagi wilayah Bali dengan raja Brawijaya. Tabanan mendapat bagian dan 
membuat puri tersendiri. Para keluarga tersebut merasa satu garis keturunan.

Di desa Kerambitan ini terdapat perempatan jalan dengan deretan beberapa puri, terutama 
puri Agung, tempat bersemayam Anak Agung Ngurah Gde Kerambitan dan puri Anyar 
tempat tinggal keluarga yang lebih muda Anak Agung Ngurah Made, sepupu dari raja. Dari 
sini rombongan melalui persawahan ke desa Tista dengan penduduk kl.30 jiwa,  Banjar 
Lelangon dengan 60 orang, Blumbang 700 orang, Tebupoh 450 orang dan Pasut 400 jiwa. 
Kemudian perjalanan menyusur pantai yang kadang terjal yang dihempas gelombang 
Samudra Hindia. Banyak terdapat bebatuan besar, ditumbuhi rumput alang-alang. Disana 
ada sebuah Pura Segara dibangun.
Tidak ada tempat yang baik untuk kapal bisa berlabuh di pantai ini. Pelabuhan Kedungu, 
dilaporkan adalah salah satu tambatan perahu terbaik tetapi sekarang ini adalah saat buruk 
bahkan jukung hampir mustahil bisa mendekati pesisir.
Pada beberapa sudut pantai terlihat permukiman kecil dari desa Pasut, Tangguntiti, Bebali, 
Antab yang kebanyakan penduduknya  membuat garam, menangkap ikan dan penyu dan 
mata pencaharian hasil laut lainnya. Di sebelah Barat Tukad Butek dibuat persawahn baru di 
dekat pantai. Tetapi dari Tukad Petireman sampai ke sungai Pulukan tertutup hutan.
Bagi Tuan Kontlir perjalanan ini bisa menyenangkan hatinya karena menikmati alam yang 
berbeda dengan alam di negeri Belanda. Secara singkat setelah melewati wilayah Mengwi, 
sampailah ke daerah Badung. Desa Kuta yang pernah merupakan pelabuhan ramai, kini 
makin sepi karena di Bali Utara, pelabuhan Buleleng makin dibenahi dan menjadi pelabuhanyang makin sibuk karena lebih aman

 Sumber : http://sepuluhsatuhistory.blogspot.com/2013/01/biografi-i-gusti-ketut-jelanthik-oleh.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s