K.H. Hasjim Asjarie

Posted: March 7, 2013 in Pahlawan Indonesia

Lahir 30 April 1875 dengan pendidikan pesantren. Sejak usia 13 tahun ia sudah dapat mengajarkan beberapa buku agama kepada teman-temannya. Tahun 1896 dan tahun 1897 menunaikan ibadah haji. Sekembalinya dari Mekah ia mengajar ke Pesantren Kemuning Kediri sampai tahun 1906. Saat itulah ia mendirikan pesantren sendiri Tebuireng-Jombang. Ia ingin menerapkan ilmu agama menurut caranya sendiri.

Dipilihnya Tebuireng karena daerah ini banyak tantangannya sebagai sarang penjahat dan maksiat merajalela. Ia sendiri memimpin pesantren tersebut. Kemajuan pesantren menarik perhatian pemerintah, sehingga segera memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah.

Cara-cara baru pun dimasukkan dalam pendidikan para santri. Selain pelajaran agama, diajarkan pula pelajaran umum seperti pelajaran bahasa asing selain bahasa Arab.

Usaha untuk memodernisasi pesantren tersebut mendapat tantangan dari orang tua para santri, sehingga mereka mengancam akan menarik anak-anaknya dari pesantren Tebuireng. Namun Hasjim yang keras hati tidak dapat digertak. Berkat datangnya tenaga muda Kyai Ilyas dan Kyai Maksum, usaha memodernisasi pesantren berjalan lancar.

Selain aktif sebagai pimpinan Tebuireng, ia terjun pula ke dalam percaturan politik. Berkat gagasannya, pada tanggal 31 Januari 1926, terbentuklah organisasi NU. Ia bertindak sebagai pimpinan tertinggu NU.

Hasjim tetap bersikap toleransi terhadap pikiran-pikiran baru dari manapun datangnya demu kemajuan umat Islam Indonesia. Semangat juangnya yang dilandasi oleh agama sangat tinggi.

Ucapan Hasjim dalam Konggres NU di Bandung tentang kefanatikan dan jihad terhadap orang yang menghina Islam dianggap berbahaya oleh Pemerintah Belanda karena pengaruhnya yang besar itu dianggab dapat menggerakkan masa untuk menentang pemerintah. Sehingga tahun 1935, pemerintah Hinda Belanda bermaksud memberi penghargaan beberapa bintang jasa. Hasjim sadar apa yang tersirat di balik pemberian penghargaan itu dan karenanya ia menolak. Selain itu ia pun menolak tawaran suatu jabatan dalam pemerintahan.

Sebagai pimpinan tertinggi NU ia bersikap “Tut Wuri Handayani”. Ia membawa NU ke dalam gelanggang pergerakan nasional menghadapi tindakan-tindakan keras pemerintah kolonial.

Bulan Maret 1942 terjadi perubahan politik di Indonesia. Jepang mengeluarkan peraturan yang melarang kegiatan politik. Peraturan untuk membungkukan badan ke arah matahari terbit (“Seikeirei“) pun diterapkan sebagai lambang menyembah Kaisar Jepang, Tenno Heika.

Tentu saja Hajsim sangat tidak setuju, karena yang wajib disembah adalah Tuhan. Karena antipatinya, ia ditangkap oleh Pemerintah Jepang. Untuk sementara pesantren Tebuireng ditutup. Namun, tanggal 18 Agustus 1942 ia dibebaskan setelah ditahan selama empat bulan. Pembebasan ini berkat usaha Wahid Hasjim-putranya.

Setelah dibebaskan dari tahanan oleh Pemerintah Jepang ia diangkat menjadi Kepala Urusan Agama. Jabatan itu diterimanya dengan sangat terpaksa, sedangkan dalam hati kecilnya ia menolak. Hal itu dilakukannya demi menyelamatkan umat Islam. Dalam kenyataannya ia tetap tinggal di Tebuireng tidak pernah melaksanakan tugasnya sebagai Kepala KUA.

Kepada Pemerintah Jepang ia mengusulkan agar dibentuk sukarela Muslimin yang akhirnya terwujud “Hizbulla”. Sesudah Indonesia merdeka, dari pesantren Tebuireng pada tanggal 22 Oktober 1945 ia mengumandangkan Revolusi Jihad, untuk menghadapi Inggris dan Belanda. Ia mengeluarkan fatwa “Allah tidak akan pernah memberikan keuntungan dan kemuliaan kepada siapa pun melalui perpecahan,sebab hanya dengan persatuan bangsalah kemerdekaan dapat dicapai dan dipertahankan”. Pesantren pada waktu itu menjadi markas pejuang-pejuang Islam. Tidak jarang ia memberi bekal uang. Ia sendiri belajar cara menggunakan pistol.

Tanggal 25 Juli 1947 pukul 21.00 ia jatuh pingsan dan meninggal setelah mendengar bahwa pasukan Hizbullah terpaksa mundur setelah bertahan sekuat tenaga dari serangan Belanda yang menduduki Malang. Pemerintahpun menghargai jasa-jasa dan pengabdiannya dengan member Gelar Pahlawan Nasional.

Jika Hasjim Asjarie-sebagai pimpinan Pon Pes kala itu sudah belajar cara menggunakan pistol (sesuatu yang tidak umum bukan!), dan kita ketahui ia adalah kakek dari Gusdur, maka tidak aneh jika perilaku Gusdur kadang membuat orang awam menilainya “unik”! Rupanya sosok Hasjim Asjarie lah yang mewarisi keunikan Gusdur !!

Sumber: http://id.shvoong.com/books/biography/2143073-biografi-hasjim-asjarie/#ixzz2MrBx7xSp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s